Tugas
Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Matematika
Oleh: Yulia
Adiasti
BAB I
PENDAHULUAN
Filsafat
Pendidikan merupakan salah satu mata kuliah yang berperan penting dalam kegiatan
belajar mengajar hal ini dikarenakan pendidikan pasti harus disesuaikan dengan
kondisi bagaimana seharusnya manusia dipandang. Dengan demikian maka akan
terlihat pendidikan seperti bagaimanakah yang sebaiknya diterapkan pada
kelompok manusia, misalnya, di daerah perkampungan, di perkotaan, mau pun di
rumah (homeschooling). Rasanya kurang relevan ketika cara mendidik yang terlalu
formal, sering memakai istilah tidak lazim, memakai media canggih diterapkan
pada pendidikan di perkampungan. Tentu ada cara dan dasar lain yang memberikan
jalan keluar terhadap permasalahan ini, caranya dengan berfilsafat tentang
pendidikan.
Filsafat
adalah olah pikir yang refleksif. Filsafat itu meniru terminologi dunia. Karena
filsafat adalah olah pikir maka kita bisa memikirkan apapun walaupun terbatas
seperti memikirkan Tuhan itu terbatas. Dalam berfilsafat harus memperhatikan
adab karena filsafat adalah ilmu yang bisa dekat, bisa jauh, bisa menghibur dan
bahkan bisa berbahaya. Sehingga kita harus tahu bagaimana tata cara
berfilsafat. Selain itu juga perlu mengetahui bagaimana sejarah perkembangan
filsafat dari abad sebelum masehi hingga filsafat pada abad ini.
Perkembangan
filsafat dimulai sejak ratusan abad sebelum masehi. Banyak aliran dan tokoh filsafat
yang muncul pada masa itu yang berperan penting dalam perkembangan filsafat
hingga saat ini. Berdasarkan alur waktu filsafat dibagi menjadi beberapa
kelompok antara lain Filsafat Alam, Filsafat Manusia, Filsafat Agama, Filsafat
Modern dan Filsafat Post Modern. Berdasar alur pemikiran
aliran-aliran filsafat terdiri atas Idealisme, Realisme, Rasionalisme, Empirisisme,
Intuitisme, Pragmatisme, dan Analitik. Perkembangan filsafat berdasar
pengelompokan masyarakat: Industrialis, Konservative, Humanisme, Pragmatis dan Demokratis.
Beberapa aliran-aliran filsafat, periode sejarah perkembangan filsafat, dan
tokoh-tokoh filsafat serta ide-idenya akan dijabarkan dalam bab berikutnya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Masa
Yunani Kuno
Secara
historis kelahiran dan perkembangan pemikiran Yunani Kuno (sistem berpikir) tidak
dapat dilepaskan dari keberadaan kelahiran dan perkembangan filsafat, dalam hal
ini adalah sejarah filsafat. Dalam tradisi sejarah filsafat mengenal 3 (tiga)
tradisi besar sejarah, yakni tradisi: (1) Sejarah Filsafat India (sekitar2000
SM – dewasa ini), (2) Sejarah Filsafat Cina (sekitar 600 SM – dewasa ini), dan
(3) Sejarah Filsafat Barat (sekitar 600 SM – dewasa ini). Dari ketiga tradisi
sejarah tersebut di atas, tradisi Sejarah Filsafat Barat adalah basis kelahiran
dan perkembangan ilmu (scientiae/science/sain) sebagaimana yang kita kenal
sekarang ini. Titik-tolak dan orientasi sejarah filsafat baik yang
diperlihatkan dalam tradisi Sejarah Filsafat India maupun Cina disatu pihak dan
Sejarah Filsafat Barat dilain pihak, yakni semenjak periodesasi awal sudah
memperlihatkan titik-tolak dan orientasi sejarah yang berbeda. Pada tradisi
Sejarah Fisafat India dan Cina, lebih memperlihatkan perhatiannya yang besar
pada masalah-masalah keagamaan, moral/etika dan cara-cara/kiat untuk mencapai
keselamatan hidup manusia di dunia dan kelak keselamatan sesudah kematian.
Sedangkan
pada tradisi Sejarah Filsafat Barat semenjak periodesasi awalnya (Yunani Kuno/Klasik:
600 SM – 400 SM), para pemikir pada masa ini sudah mulai mempermasalahkan dan
mencari unsur induk (arché) yang dianggap sebagai asal mula segala
sesuatu/semesta alam Sebagaimana yang dikemukakan oleh Thales (sekitar 600 SM)
bahwa “air” merupakan arché, sedangkan Anaximander (sekitar 610 -540 SM)
berpendapat arché adalah sesuatu “yang tak terbatas”, Anaximenes (sekitar 585 –
525 SM berpendapat “udara” yang merupakan unsur induk dari segala sesuatu. (Budi
Setiawan, 2010).
Tokoh-tokoh
lainnya yang berperan penting dalam perkembangan filsafat pada masa Yunani Kuno
antara lain sebagai berikut beserta ide-idenya:
1. Permenides
(tetap)
Ia lahir di kota Elea, dialah yang pertama kali
memikirkan tentang hakikat tentang ada. Menurut pendapatnya, apa yang disebut
sebagai realitas adalah bukan gerak dan perubahan. Yang ada itu ada, yang ada
tidak dapat hilang menjadi tidak ada, dan yang tidak ada tidak mungkin muncul
menjadi ada, yang tidak ada adalah tidak ada, sehingga tidak dapat dipikirkan. Yang
dapat dipikirkan hanyalah yang ada saja, yang tidak ada tidak dapat dipikirkan.
Parmenides (515 – 440 SM) menyatakan bahwa segala sesuatu itu sebagai sesuatu
yang tetap (tidak berubah).
2. Heraclitos
(berubah)
Ia lahir di Ephesus, ia mendapat julukan si gelap,
karena untuk menelusuri gerak pikirannya sangat sulit. Heraclitos (535 – 475
SM) mengemukakan bahwa segala sesuatu itu “mengalir” (“panta rhei”) bahwa
segala sesuatu itu berubah terus menerus/perubahan. Ucapannya yang terkenal: Panta rhei kai uden menci, artinya
segala sesuatunya mengalir bagaikan arus sungai dan tidak satu orang pun dapat
masuk ke sungai yang sama dua kali. Alsannya, karena air sungai yang pertama
telah mengalir, berganti dengan air yang berada dibelakangnya.
Ia mempercayai bahwa arche (asas yang pertama dari
alam semesta) adalah api. Api dianggapnya sebagai lambang perubahan dan
kesatuan. Api mempunyai sifat memusnahkan segala yang ada, dan mengubahnya
sesuatu itu menjadi abu atau asap. Walaupun sesuatu itu apabila dibakar menjadi
abu atau asap, toh adana api tetap ada. Segala sesuatunya berasal dari api, dan
akan kembali ke api.
3. Socrates
(Dialectic)
Socrates (470 SM) menolak konsep dunia determinisme
mekanisme dan semua teori tentang dunia fisik. Menurutnya hakekat manusia
adalah jiwa dan kehidupan rohani. Pikiran manusia adalah satu-satunya obyek
penyelidikan yang berguna. Socrates memperkenalkan definisi universal dan
penalaran induktif. Socrates sebagai guru dari Plato tidak meninggalkan karya
tulis satupun dari hasil pemikirannya, tetapi pemikiran-pemikirannya secara
tidak langsung banyak dikemukakan dalam tulisan-tulisan para pemikir Yunani
lainnya terutama ditemukan dalam karya muridnya Plato.
4. Plato
(Idealisme)
Plato (428 SM) merintis teori alam menurut kebutuhan
dan keinginan manusia. Alam semesta dianggap sebagai organisme hidup dengan
tubuh, jiwa, dan pemikirannya. Plato membela konsep penalaran deduktif seperti
mantematika. Dia juga telah memperkenalkan konsep “bentuk-bentuk yang nyata”
yaitu bahwa ide atau bentuk merupakan kenyataan sejati. Selain itu dia juga
memperkenalkan abstraksi pada konsep-konsep ilmiah.
Filsafat Plato dikenal sebagai Idealisme. Idealisme
diambil dari kata “idea” yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini menganggap
bahwa dibalik realitas fisik pasti ada sesuatu yang tidak tampak. Bagi aliran
ini, sejatinya sesuatu justru terletak dibalik yang fisik. Ia berada dalam
ide-ide, yang fisik bagi aliran ini dianggap hanya merupakan bayang-bayang, sifatnya
sementara, dan selalu menipu. Eksistensi benda fisik akan rusak dan tidak akan
pernah membawa orang pada kebenaran sejati. Dalam perkembangannya, aliran ini
ditemui dalam ajaran Plato (428-348 SM) dengan teori idenya. Menurutnya,
tiap-tiap yang ada di dalam mesti ada idenya yaitu konsep universal dari tiap
sesuatu. Alam nyata yang menempati ruangan ini hanyalah berupa bayangan saja
dari alam ide itu. Jadi, idelah yang menjadi hakikat sesuatu, menjadi dasar
wujud sesuatu. Filsafat Plato juga sebagai jalan tengah dari ajaran Heraclitos
dan Parmenides. Karya-karya lainnya dari Plato sangat dalam dan luas meliputi
logika, epistemologi, antropologi (metafisika), teologi, etika, estetika,
politik, ontologi dan filsafat alam.
5. Aristoteles
(Realisme)
Aristoteles (384 SM) sebagai murid Plato, dalam
banyak hal sering tidak setuju/berlawanan dengan apa yang diperoleh dari
gurunya (Plato). Bagi Aristoteles “ide” bukanlah terletak dalam dunia “abadi”
sebagaimana yang dikemukakan oleh Plato, tetapi justru terletak pada
kenyataan/benda-benda itu sendiri. Setiap benda mempunyai dua unsur yang tidak
dapat dipisahkan, yaitu materi (“hylé”) dan bentuk (“morfé”). Lebih jauh bahkan
dikatakan bahwa “ide” tidak dapat dilepaskan atau dikatakan tanpa materi,
sedangkan presentasi materi mestilah dengan bentuk. Dengan demikian maka
bentuk-bentuk “bertindak” di dalam materi, artinya bentuk memberikan kenyataan
kepada materi dan sekaligus adalah tujuan (finalis) dari materi.
Pemikiran-pemikirannya yang sistematis tersebut
banyak menyumbang kepada perkembangan ilmu pengetahuan. Selain perintis
pengetahuan sistematis, Aristoteles juga merupakan perintis naturalisasi dalam
ilmu. Dialah peletak dasar metode observasi dan pengembang biologi awal yang
merintis taksonomi dan klasifikasi makhluk hidup. Dalam pandangannya tubuh
manusia memiliki fungsi spesifik. Dia berpendapat bahwa realitas dibentuk oleh
objek-objek individual (nominalisme). Dia juga merintis penalaran dedukatif,
logika formal atau silogisme. Aristoteles menulis banyak bidang, meliputi
logika, etika, politik, metafisika, psikologi dan ilmu alam.
Jadi
unsur penting berpikir ilmiah sudah mulai dipakai, yakni: rasio dan logika (konsekuensi).
Dunia dapat dipahami oleh rasio manusia. Selain ide tersebut, terdapat ide-ide
atau gagasan-gagasan lainnya sebagai sumbangan utama terhadap perkembangan ilmu
modern antara lain eksplorasi mengenai obyek-obyek yang mungkin dipahami akal
manusia, pengenalan angka secara abstrak dan geometri, penyelidikan dunia
fisik, alam semesta, astronomi, dan kedokteran. Selain itu juga terdapat
penyelidikan tentang manusia meliputi tubuh, jiwa dan masyarakat. Sumbangan lainnya
adalah adanya ide penalaran induktif dan deduktif, metode observasi dan
dirintisnya akademia (konsep perguruan tinggi paling awal).
B. Abad
12-13 M (Jaman Kegelapan)
Masa
kegelapan di dunia Eropa yaitu agama dan gereja mendominasi budaya dan dunia
intelektual. Filsafat pada abad ini dikuasai dengan pemikiran keagamaan
(Kristiani). Puncak filsafat Kristiani ini adalah Patristik (Lt.
“Patres”/Bapa-bapa Gereja) dan Skolastik Patristik sendiri dibagi atas Patristik
Yunani (atau Patristik Timur) dan Patristik Latin (atau Patristik Barat). Tokoh-tokoh
Patristik Yunani ini antara lain Clemens dari Alexandria (150-215), Origenes
(185-254), Gregorius dari Naziane (330-390), Basilius (330-379). Tokoh-tokoh dari
Patristik Latin antara lain Hilarius (315-367), Ambrosius (339-397), Hieronymus
(347-420) dan Augustinus (354-430). Ajaran-ajaran dari para Bapa Gereja ini
adalah falsafi-teologis, yang pada intinya ajaran ini ingin memperlihatkan bahwa
iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam dari manusia. Ajaran-ajaran ini
banyak pengaruh dari Plotinos. Pada masa ini dapat dikatakan era filsafat yang berlandaskan
akal-budi “diabdikan” untuk dogma agama. (Budi Setiawan, 2010)
Jaman
Skolastik (sekitar tahun 1000), pengaruh Plotinus diambil alih oleh
Aristoteles. Pemikiran-pemikiran Ariestoteles kembali dikenal dalam karya
beberapa filsuf Yahudi maupun Islam, terutama melalui Avicena (Ibn. Sina,
980-1037), Averroes (Ibn. Rushd, 1126-1198) dan Maimonides (1135-1204).
Pengaruh Aristoteles demikian besar sehingga ia (Aristoteles) disebut sebagai
“Sang Filsuf” sedangkan Averroes yang banyak membahas karya Aristoteles
dijuluki sebagai “Sang Komentator”. Pertemuan pemikiran Aristoteles dengan iman
Kristiani menghasilkan filsuf penting sebagian besar dari ordo baru yang lahir
pada masa Abad Pertengahan, yaitu, dari ordo Dominikan dan Fransiskan..
Filsafatnya disebut “Skolastik” (Lt. “scholasticus”, “guru”), karena pada
periode ini filsafat diajarkan dalam sekolah-sekolah biara dan
universitas-universitas menurut suatu kurikulum yang baku dan bersifat
internasional. Inti ajaran ini bertema pokok bahwa ada hubungan antara iman dengan
akal budi. Pada masa ini filsafat mulai ambil jarak dengan agama, dengan melihat
sebagai suatu kesetaraan antara satu dengan yang lain (Agama dengan Filsafat)
bukan yang satu “mengabdi” terhadap yang lain atau sebaliknya.
Pada
masa ini, seorang astronom berkebangsaan Polandia N. Copernicus dihukum
kurungan seumur hidup oleh otoritas Gereja, ketika mengemukakan temuannya
tentang pusat peredaran benda-benda angkasa adalah matahari (Heleosentrisme).
Teori ini dianggap oleh otoritas Gereja sebagai bertentangan dengan teori
geosentrisme (Bumi sebagai pusat peredaran benda-benda angkasa) yang
dikemukakan oleh Ptolomeus semenjak jaman Yunani yang justru telah mendapat
“mandat” dari otoritas Gereja. Oleh karena itu dianggap menjatuhkan kewibawaan
Gereja.
C. Abad
15 M (Jaman Pencerahan)
Abad
ini merupakan masa penghidupan kembali semangat rasionalitas dan eksplorasi
ilmu. Pada masa ini (Renaissance) muncul reformasi awal paska jaman kegelapan
di Eropa dan munculnya semangat liberalisme dan humanisme. Tokoh-tokoh yang
berperan penting pada abad ini antara lain: Leonardo da Vinci, Copernicus,
Galileo, Newton, Thomas Digges, Bruno, Kepler, Boyle, Huygens, Thomas Hobbes,
Pascal dan Laplace. Bidang keilmuan yang berkembang antara lain astronomi,
kimia, kedokteran, anatomi, fisiologi, botani, magnet, listrik, fisika dan
optik.
D. Abad
16 M (Awal Jaman Modern)
Setelah
Renaissance mulailah jaman Barok, pada jaman ini tradisi rasionalisme ditumbuh-kembangkan
oleh filsuf-filsuf antara lain; R. Descartes (1596-1650), B. Spinoza (1632-1677)
dan G. Leibniz (1646-1710). Para Filsuf tersebut di atas menekankan pentingnya
kemungkinan-kemungkinan akal-budi (“ratio”) didalam mengembangkan pengetahuan
manusia.
E. Abad
17-18 M (Jaman Modern)
Dalam
era filsafat modern, muncullah berbagai aliran pemikiran: Rasionalisme,
Empirisme, Idealisme, Positivisme, Evolusionis, Materialisme, Neo-Kantianisme,
Pragmatisme, Filsafat Hidup, Fenomologi, Eksistensialisme, dan Neo-Thomism.
a. Rasionalisme
Rasionalisme dipelopori
oleh Rene Descartes (1596 – 1650) yang disebut sebagai Bapak filsafat modern.
Yang harus dipandang sebagai hal yang besar adalah apa yang jelas dan
terpilah-pilah (clear and distinctively). Latar belakang munculnya rasionalisme
adalah keinginan untuk membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional
(skolastik).
b. Empirisme
Sebagai tokohnya adalah
Thomas Hobbes, John Locke, dan David Hume. Kemudian beranggapan bahwa pengetahuan
yang bermanfaat, pasti dan benar hanya diperoleh lewat indra (pemimpi), dan
empirilah satu-satunya sumber pengetahuan. Pemikiran tersebut lahir dengan nama
empirisme.
c. Materialisme
Salah satu tokoh
materialisme alam adalah Ludwig Feueurbach (1804-1872) sebagai pengikut Hegel,
mengemukakan pendapatnya bahwa baik pengetahuan maupun tindakan berlaku
adagium, artinya terimalah dunia yang ada, bila menolak agama/ metafisika. Dari
Materialisme Historis/ dialektis, yaitu Karl Marx (1818-1883), nama lengkapnya
Karl Heinrich Marx. Menurut pendapatnya, tugas seorang filosof bukan untuk
menerangkan dunia, tetapi untuk mengubahnya. Hidup manusia ternyata ditentukan
oleh keadaan ekonomi.
d. Positivisme
Berkaitan dengan
filosofi penelitian Ilmu Sosial, aliran yang tidak bisa dilewatkan adalah
positivisme yang digagas oleh filsuf A. Comte (1798-1857). Menurut Comte pemikiran
manusia dapat dibagi kedalam tiga tahap/fase, yaitu tahap: (1) teologis, (2)
Metafisis, dan (3)
Positif-ilmiah. Bagi era manusia dewasa (modern) ini pengetahuan
hanya mungkin dengan
menerapkan metode-metode positif ilmiah, artinya setiap pemikiran hanya benar
secara ilmiah bilamana dapat diuji dan dibuktikan dengan pengukuran-pengukuran
yang jelas dan pasti sebagaimana berat, luas dan isi suatu benda. Dengan
demikian Comte menolak spekulasi “metafisik”, dan oleh karena itu ilmu sosial
yang digagas olehnya ketika itu dinamakan “Fisika Sosial” sebelum dikenal
sekarang sebagai “Sosiologi”. Bisa dipahami, karena pada masa itu ilmu-ilmu
alam (Natural sciences)
sudah lebih “mantap” dan “mapan”, sehingga banyak pendekatan dan metode-metode
ilmu-ilmu alam yang diambil-oper oleh ilmu-ilmu sosial (Social sciences) yang
berkembang sesudahnya.(Budi Setiawan, 2010)
e. Transedentalisme
Filsuf Jerman Immanuel Kant
dianggap sebagai inspirator dan sekaligus sebagai peletak dasar fondasi ilmu,
yakni dengan “mendamaikan” pertentangan epistemologik pengetahuan antara kaum
rasionalisme versus kaum empirisme. Immanuel Kant dalam karyanya utamanya yang
terkenal terbit tahun 1781 yang berjudul Kritik der reinen vernunft (Ing.
Critique of Pure Reason), memberi arah baru mengenai filsafat pengetahuan. Bagi
Kant yang terpenting bagaimana pikiran manusia mamahami dan menafsirkan apa
yang direkam secara empirikal, bukan bagaimana kenyataan itu tampil sebagai
benda itu sendiri.
F. Abad
18/19 M (Jaman Pos Modern)
Pada
abad ini dipandang sebagai awal mula periode ilmiah. Ilmu yang berkembang mulai
berhubungan dengan industri dimana ilmu tersebut lebih spesifik dan terpecah
yaitu biologi, kimia, fisika dan ilmu sosial. Banyak penemuan-penemuan alat
yang berkaitan dengan listrik, telegraph, bola, lampu, radar dan dinamo
listrik. Tokoh-tokoh Postmodernisme antara lain. J. Habermas, J. Derida. Kini oleh
para epistemolog (ataupun dari kalangan sosiologi pengetahuan) dalam perkembangannya
kemudian, struktur ilmu pengetahuan semakin lebih sistematik dan lebih lengkap
(dilengkapi dengan, teori, logika dan metode sains). Pada abad ini juga
berkembang aliran Pragmatisme, Utilitarian, Capitalisme, dan Hedonisme.
Pragmatisme
berasal dari kata pragma yang artinya guna. Maka pragmatisme adalah suatu
aliran yang benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai yang benar
dengan akibat-akibat yang bermanfaat secara praktis. Tokohnya William James
(1842-1910) lahir di New York, memperkenalkan ide-idenya tentang pragmatisme
kepada dunia. Ia ahli dalam bidang seni, psikologi, anatomi, fisiologi dan
filsafat.
Utilitarianisme
adalah paham atau aliran dalam filsafat moral yang menekankan prinsip manfaat
atau kegunaan (the principle of utility) sebagai prinsip moral yang paling
dasariah. Etika utilitarianisme menganggap bahwa sesuatu itu dapat dijadikan
sebagai norma moral kalau sesuatu itu berguna. Kegunaan atau manfaat suatu
tindakan menjadi ukuran normatif.
Kapitalisme
sebagai sebuah sistem yang mulai berlaku di Eropa pada abad ke-16 hingga abad
ke-19, yaitu pada masa perkembangan perbankan komersial Eropa di mana
sekelompok individu maupun kelompok dapat bertindak sebagai suatu badan
tertentu yang dapat memiliki maupun melakukan perdagangan benda milik pribadi,
terutama barang modal, seperti tanah dan manusia guna proses perubahan dari
barang modal ke barang jadi. Untuk mendapatkan modal-modal tersebut, para
kapitalis harus mendapatkan bahan baku dan mesin dahulu, baru buruh sebagai
operator mesin dan juga untuk mendapatkan nilai lebih dari bahan baku tersebut.
Hedonisme
adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan
mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan
yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan
atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.
G. Pos-Pos
Modern (Contemporer)
Pada masa ini
berkembang filsafat bahasa (analitik). Tokoh aliran ini adalah Ludwig Josef
Johan Wittgenstein (1889-1951). Ilmu yang ditekuninya adalah ilmu penerbangan
yang memerlukan studi dasar matematika yang mendalam. Filsafat Analitis ini
berpengaruh di Inggris dan Amerika sejak tahun 1950. Filsfat ini membahas
analisis bahasa dan analisis konsep-konsep.
BAB III
PENUTUP
Perkembangan
filsafat dimulai sejak ratusan abad sebelum masehi. Banyak aliran dan tokoh filsafat
yang muncul pada masa itu yang berperan penting dalam perkembangan filsafat
hingga saat ini. Periode dalam sejarah perkembangan filsafat antara lain:
§ Yunani
Kuno
§ Abad
Masehi
§ Jaman
Kegelapan (Abad 13 M)
§ Jaman
Pencerahan (Abad 15 M)
§ Jaman
Modern (Abad 16-18 M)
§ Jaman
Pos Modern (Abad 18/19 M)
§ Jaman
Kontemporer (Filsafat Analitik)
Pada
masa-masa itu bermunculan tokoh-tokoh pengembang filsafat dengan
aliran-alirannya. Tokoh-tokoh tersebut antara lain:
·
Permenides (Tetap)
·
Heraclitos (Berubah)
·
Socrates (Dialectis)
·
Plato (Idealisme), Aristoteles (Realisme)
·
Galileo Galilei
·
Bruno
·
Copernicus
·
David Hume (Empirisme)
·
B. Descartes (Rasionalisme)
·
Immanuel Kant (Transedentalisme)
·
Auguste Comte (Positivisme)
·
Hegel (Hegelianisme)
·
Karl Marx (Marxisme)
dan masih banyak
lainnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Budi Setiawan.
2010. Sejarah Perkembangan Pemikiran
Filsafat : Suatu Pengantar Kearah Filsafat Ilmu. Makalah ini disampaikan
dalam Interenship Dosen Filsafat Ilmu yang diselenggarakan oleh MKWU Universitas
Airlangga, Surabaya, 28-29 Juli 2010.
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar