Minggu, 14 Oktober 2012

ALIRAN-ALIRAN, TOKOH-TOKOH FILSAFAT DAN IDE-IDENYA



Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Matematika
 Oleh: Yulia Adiasti

 BAB I
PENDAHULUAN
Filsafat Pendidikan merupakan salah satu mata kuliah yang berperan penting dalam kegiatan belajar mengajar hal ini dikarenakan pendidikan pasti harus disesuaikan dengan kondisi bagaimana seharusnya manusia dipandang. Dengan demikian maka akan terlihat pendidikan seperti bagaimanakah yang sebaiknya diterapkan pada kelompok manusia, misalnya, di daerah perkampungan, di perkotaan, mau pun di rumah (homeschooling). Rasanya kurang relevan ketika cara mendidik yang terlalu formal, sering memakai istilah tidak lazim, memakai media canggih diterapkan pada pendidikan di perkampungan. Tentu ada cara dan dasar lain yang memberikan jalan keluar terhadap permasalahan ini, caranya dengan berfilsafat tentang pendidikan.
Filsafat adalah olah pikir yang refleksif. Filsafat itu meniru terminologi dunia. Karena filsafat adalah olah pikir maka kita bisa memikirkan apapun walaupun terbatas seperti memikirkan Tuhan itu terbatas. Dalam berfilsafat harus memperhatikan adab karena filsafat adalah ilmu yang bisa dekat, bisa jauh, bisa menghibur dan bahkan bisa berbahaya. Sehingga kita harus tahu bagaimana tata cara berfilsafat. Selain itu juga perlu mengetahui bagaimana sejarah perkembangan filsafat dari abad sebelum masehi hingga filsafat pada abad ini.
Perkembangan filsafat dimulai sejak ratusan abad sebelum masehi. Banyak aliran dan tokoh filsafat yang muncul pada masa itu yang berperan penting dalam perkembangan filsafat hingga saat ini. Berdasarkan alur waktu filsafat dibagi menjadi beberapa kelompok antara lain Filsafat Alam, Filsafat Manusia, Filsafat Agama, Filsafat Modern dan Filsafat Post Modern. Berdasar alur pemikiran aliran-aliran filsafat terdiri atas Idealisme, Realisme, Rasionalisme, Empirisisme, Intuitisme, Pragmatisme, dan Analitik. Perkembangan filsafat berdasar pengelompokan masyarakat: Industrialis, Konservative, Humanisme, Pragmatis dan Demokratis. Beberapa aliran-aliran filsafat, periode sejarah perkembangan filsafat, dan tokoh-tokoh filsafat serta ide-idenya akan dijabarkan dalam bab berikutnya.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Masa Yunani Kuno
Secara historis kelahiran dan perkembangan pemikiran Yunani Kuno (sistem berpikir) tidak dapat dilepaskan dari keberadaan kelahiran dan perkembangan filsafat, dalam hal ini adalah sejarah filsafat. Dalam tradisi sejarah filsafat mengenal 3 (tiga) tradisi besar sejarah, yakni tradisi: (1) Sejarah Filsafat India (sekitar2000 SM – dewasa ini), (2) Sejarah Filsafat Cina (sekitar 600 SM – dewasa ini), dan (3) Sejarah Filsafat Barat (sekitar 600 SM – dewasa ini). Dari ketiga tradisi sejarah tersebut di atas, tradisi Sejarah Filsafat Barat adalah basis kelahiran dan perkembangan ilmu (scientiae/science/sain) sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. Titik-tolak dan orientasi sejarah filsafat baik yang diperlihatkan dalam tradisi Sejarah Filsafat India maupun Cina disatu pihak dan Sejarah Filsafat Barat dilain pihak, yakni semenjak periodesasi awal sudah memperlihatkan titik-tolak dan orientasi sejarah yang berbeda. Pada tradisi Sejarah Fisafat India dan Cina, lebih memperlihatkan perhatiannya yang besar pada masalah-masalah keagamaan, moral/etika dan cara-cara/kiat untuk mencapai keselamatan hidup manusia di dunia dan kelak keselamatan sesudah kematian.
Sedangkan pada tradisi Sejarah Filsafat Barat semenjak periodesasi awalnya (Yunani Kuno/Klasik: 600 SM – 400 SM), para pemikir pada masa ini sudah mulai mempermasalahkan dan mencari unsur induk (arché) yang dianggap sebagai asal mula segala sesuatu/semesta alam Sebagaimana yang dikemukakan oleh Thales (sekitar 600 SM) bahwa “air” merupakan arché, sedangkan Anaximander (sekitar 610 -540 SM) berpendapat arché adalah sesuatu “yang tak terbatas”, Anaximenes (sekitar 585 – 525 SM berpendapat “udara” yang merupakan unsur induk dari segala sesuatu. (Budi Setiawan, 2010).
Tokoh-tokoh lainnya yang berperan penting dalam perkembangan filsafat pada masa Yunani Kuno antara lain sebagai berikut beserta ide-idenya:
1.    Permenides (tetap)
Ia lahir di kota Elea, dialah yang pertama kali memikirkan tentang hakikat tentang ada. Menurut pendapatnya, apa yang disebut sebagai realitas adalah bukan gerak dan perubahan. Yang ada itu ada, yang ada tidak dapat hilang menjadi tidak ada, dan yang tidak ada tidak mungkin muncul menjadi ada, yang tidak ada adalah tidak ada, sehingga tidak dapat dipikirkan. Yang dapat dipikirkan hanyalah yang ada saja, yang tidak ada tidak dapat dipikirkan. Parmenides (515 – 440 SM) menyatakan bahwa segala sesuatu itu sebagai sesuatu yang tetap (tidak berubah).
2.    Heraclitos (berubah)
Ia lahir di Ephesus, ia mendapat julukan si gelap, karena untuk menelusuri gerak pikirannya sangat sulit. Heraclitos (535 – 475 SM) mengemukakan bahwa segala sesuatu itu “mengalir” (“panta rhei”) bahwa segala sesuatu itu berubah terus menerus/perubahan. Ucapannya yang terkenal: Panta rhei kai uden menci, artinya segala sesuatunya mengalir bagaikan arus sungai dan tidak satu orang pun dapat masuk ke sungai yang sama dua kali. Alsannya, karena air sungai yang pertama telah mengalir, berganti dengan air yang berada dibelakangnya.
Ia mempercayai bahwa arche (asas yang pertama dari alam semesta) adalah api. Api dianggapnya sebagai lambang perubahan dan kesatuan. Api mempunyai sifat memusnahkan segala yang ada, dan mengubahnya sesuatu itu menjadi abu atau asap. Walaupun sesuatu itu apabila dibakar menjadi abu atau asap, toh adana api tetap ada. Segala sesuatunya berasal dari api, dan akan kembali ke api.
3.    Socrates (Dialectic)
Socrates (470 SM) menolak konsep dunia determinisme mekanisme dan semua teori tentang dunia fisik. Menurutnya hakekat manusia adalah jiwa dan kehidupan rohani. Pikiran manusia adalah satu-satunya obyek penyelidikan yang berguna. Socrates memperkenalkan definisi universal dan penalaran induktif. Socrates sebagai guru dari Plato tidak meninggalkan karya tulis satupun dari hasil pemikirannya, tetapi pemikiran-pemikirannya secara tidak langsung banyak dikemukakan dalam tulisan-tulisan para pemikir Yunani lainnya terutama ditemukan dalam karya muridnya Plato.
4.    Plato (Idealisme)
Plato (428 SM) merintis teori alam menurut kebutuhan dan keinginan manusia. Alam semesta dianggap sebagai organisme hidup dengan tubuh, jiwa, dan pemikirannya. Plato membela konsep penalaran deduktif seperti mantematika. Dia juga telah memperkenalkan konsep “bentuk-bentuk yang nyata” yaitu bahwa ide atau bentuk merupakan kenyataan sejati. Selain itu dia juga memperkenalkan abstraksi pada konsep-konsep ilmiah.
Filsafat Plato dikenal sebagai Idealisme. Idealisme diambil dari kata “idea” yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini menganggap bahwa dibalik realitas fisik pasti ada sesuatu yang tidak tampak. Bagi aliran ini, sejatinya sesuatu justru terletak dibalik yang fisik. Ia berada dalam ide-ide, yang fisik bagi aliran ini dianggap hanya merupakan bayang-bayang, sifatnya sementara, dan selalu menipu. Eksistensi benda fisik akan rusak dan tidak akan pernah membawa orang pada kebenaran sejati. Dalam perkembangannya, aliran ini ditemui dalam ajaran Plato (428-348 SM) dengan teori idenya. Menurutnya, tiap-tiap yang ada di dalam mesti ada idenya yaitu konsep universal dari tiap sesuatu. Alam nyata yang menempati ruangan ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam ide itu. Jadi, idelah yang menjadi hakikat sesuatu, menjadi dasar wujud sesuatu. Filsafat Plato juga sebagai jalan tengah dari ajaran Heraclitos dan Parmenides. Karya-karya lainnya dari Plato sangat dalam dan luas meliputi logika, epistemologi, antropologi (metafisika), teologi, etika, estetika, politik, ontologi dan filsafat alam.
5.    Aristoteles (Realisme)
Aristoteles (384 SM) sebagai murid Plato, dalam banyak hal sering tidak setuju/berlawanan dengan apa yang diperoleh dari gurunya (Plato). Bagi Aristoteles “ide” bukanlah terletak dalam dunia “abadi” sebagaimana yang dikemukakan oleh Plato, tetapi justru terletak pada kenyataan/benda-benda itu sendiri. Setiap benda mempunyai dua unsur yang tidak dapat dipisahkan, yaitu materi (“hylé”) dan bentuk (“morfé”). Lebih jauh bahkan dikatakan bahwa “ide” tidak dapat dilepaskan atau dikatakan tanpa materi, sedangkan presentasi materi mestilah dengan bentuk. Dengan demikian maka bentuk-bentuk “bertindak” di dalam materi, artinya bentuk memberikan kenyataan kepada materi dan sekaligus adalah tujuan (finalis) dari materi.
Pemikiran-pemikirannya yang sistematis tersebut banyak menyumbang kepada perkembangan ilmu pengetahuan. Selain perintis pengetahuan sistematis, Aristoteles juga merupakan perintis naturalisasi dalam ilmu. Dialah peletak dasar metode observasi dan pengembang biologi awal yang merintis taksonomi dan klasifikasi makhluk hidup. Dalam pandangannya tubuh manusia memiliki fungsi spesifik. Dia berpendapat bahwa realitas dibentuk oleh objek-objek individual (nominalisme). Dia juga merintis penalaran dedukatif, logika formal atau silogisme. Aristoteles menulis banyak bidang, meliputi logika, etika, politik, metafisika, psikologi dan ilmu alam.
Jadi unsur penting berpikir ilmiah sudah mulai dipakai, yakni: rasio dan logika (konsekuensi). Dunia dapat dipahami oleh rasio manusia. Selain ide tersebut, terdapat ide-ide atau gagasan-gagasan lainnya sebagai sumbangan utama terhadap perkembangan ilmu modern antara lain eksplorasi mengenai obyek-obyek yang mungkin dipahami akal manusia, pengenalan angka secara abstrak dan geometri, penyelidikan dunia fisik, alam semesta, astronomi, dan kedokteran. Selain itu juga terdapat penyelidikan tentang manusia meliputi tubuh, jiwa dan masyarakat. Sumbangan lainnya adalah adanya ide penalaran induktif dan deduktif, metode observasi dan dirintisnya akademia (konsep perguruan tinggi paling awal).

B.     Abad 12-13 M (Jaman Kegelapan)
Masa kegelapan di dunia Eropa yaitu agama dan gereja mendominasi budaya dan dunia intelektual. Filsafat pada abad ini dikuasai dengan pemikiran keagamaan (Kristiani). Puncak filsafat Kristiani ini adalah Patristik (Lt. “Patres”/Bapa-bapa Gereja) dan Skolastik Patristik sendiri dibagi atas Patristik Yunani (atau Patristik Timur) dan Patristik Latin (atau Patristik Barat). Tokoh-tokoh Patristik Yunani ini antara lain Clemens dari Alexandria (150-215), Origenes (185-254), Gregorius dari Naziane (330-390), Basilius (330-379). Tokoh-tokoh dari Patristik Latin antara lain Hilarius (315-367), Ambrosius (339-397), Hieronymus (347-420) dan Augustinus (354-430). Ajaran-ajaran dari para Bapa Gereja ini adalah falsafi-teologis, yang pada intinya ajaran ini ingin memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam dari manusia. Ajaran-ajaran ini banyak pengaruh dari Plotinos. Pada masa ini dapat dikatakan era filsafat yang berlandaskan akal-budi “diabdikan” untuk dogma agama. (Budi Setiawan, 2010)
Jaman Skolastik (sekitar tahun 1000), pengaruh Plotinus diambil alih oleh Aristoteles. Pemikiran-pemikiran Ariestoteles kembali dikenal dalam karya beberapa filsuf Yahudi maupun Islam, terutama melalui Avicena (Ibn. Sina, 980-1037), Averroes (Ibn. Rushd, 1126-1198) dan Maimonides (1135-1204). Pengaruh Aristoteles demikian besar sehingga ia (Aristoteles) disebut sebagai “Sang Filsuf” sedangkan Averroes yang banyak membahas karya Aristoteles dijuluki sebagai “Sang Komentator”. Pertemuan pemikiran Aristoteles dengan iman Kristiani menghasilkan filsuf penting sebagian besar dari ordo baru yang lahir pada masa Abad Pertengahan, yaitu, dari ordo Dominikan dan Fransiskan.. Filsafatnya disebut “Skolastik” (Lt. “scholasticus”, “guru”), karena pada periode ini filsafat diajarkan dalam sekolah-sekolah biara dan universitas-universitas menurut suatu kurikulum yang baku dan bersifat internasional. Inti ajaran ini bertema pokok bahwa ada hubungan antara iman dengan akal budi. Pada masa ini filsafat mulai ambil jarak dengan agama, dengan melihat sebagai suatu kesetaraan antara satu dengan yang lain (Agama dengan Filsafat) bukan yang satu “mengabdi” terhadap yang lain atau sebaliknya.
Pada masa ini, seorang astronom berkebangsaan Polandia N. Copernicus dihukum kurungan seumur hidup oleh otoritas Gereja, ketika mengemukakan temuannya tentang pusat peredaran benda-benda angkasa adalah matahari (Heleosentrisme). Teori ini dianggap oleh otoritas Gereja sebagai bertentangan dengan teori geosentrisme (Bumi sebagai pusat peredaran benda-benda angkasa) yang dikemukakan oleh Ptolomeus semenjak jaman Yunani yang justru telah mendapat “mandat” dari otoritas Gereja. Oleh karena itu dianggap menjatuhkan kewibawaan Gereja.

C.     Abad 15 M (Jaman Pencerahan)
Abad ini merupakan masa penghidupan kembali semangat rasionalitas dan eksplorasi ilmu. Pada masa ini (Renaissance) muncul reformasi awal paska jaman kegelapan di Eropa dan munculnya semangat liberalisme dan humanisme. Tokoh-tokoh yang berperan penting pada abad ini antara lain: Leonardo da Vinci, Copernicus, Galileo, Newton, Thomas Digges, Bruno, Kepler, Boyle, Huygens, Thomas Hobbes, Pascal dan Laplace. Bidang keilmuan yang berkembang antara lain astronomi, kimia, kedokteran, anatomi, fisiologi, botani, magnet, listrik, fisika dan optik.

D.    Abad 16 M (Awal Jaman Modern)
Setelah Renaissance mulailah jaman Barok, pada jaman ini tradisi rasionalisme ditumbuh-kembangkan oleh filsuf-filsuf antara lain; R. Descartes (1596-1650), B. Spinoza (1632-1677) dan G. Leibniz (1646-1710). Para Filsuf tersebut di atas menekankan pentingnya kemungkinan-kemungkinan akal-budi (“ratio”) didalam mengembangkan pengetahuan manusia.

E.     Abad 17-18 M (Jaman Modern)
Dalam era filsafat modern, muncullah berbagai aliran pemikiran: Rasionalisme, Empirisme, Idealisme, Positivisme, Evolusionis, Materialisme, Neo-Kantianisme, Pragmatisme, Filsafat Hidup, Fenomologi, Eksistensialisme, dan Neo-Thomism.
a.       Rasionalisme
Rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596 – 1650) yang disebut sebagai Bapak filsafat modern. Yang harus dipandang sebagai hal yang besar adalah apa yang jelas dan terpilah-pilah (clear and distinctively). Latar belakang munculnya rasionalisme adalah keinginan untuk membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional (skolastik).
b.      Empirisme
Sebagai tokohnya adalah Thomas Hobbes, John Locke, dan David Hume. Kemudian beranggapan bahwa pengetahuan yang bermanfaat, pasti dan benar hanya diperoleh lewat indra (pemimpi), dan empirilah satu-satunya sumber pengetahuan. Pemikiran tersebut lahir dengan nama empirisme.
c.       Materialisme
Salah satu tokoh materialisme alam adalah Ludwig Feueurbach (1804-1872) sebagai pengikut Hegel, mengemukakan pendapatnya bahwa baik pengetahuan maupun tindakan berlaku adagium, artinya terimalah dunia yang ada, bila menolak agama/ metafisika. Dari Materialisme Historis/ dialektis, yaitu Karl Marx (1818-1883), nama lengkapnya Karl Heinrich Marx. Menurut pendapatnya, tugas seorang filosof bukan untuk menerangkan dunia, tetapi untuk mengubahnya. Hidup manusia ternyata ditentukan oleh keadaan ekonomi.
d.      Positivisme
Berkaitan dengan filosofi penelitian Ilmu Sosial, aliran yang tidak bisa dilewatkan adalah positivisme yang digagas oleh filsuf A. Comte (1798-1857). Menurut Comte pemikiran manusia dapat dibagi kedalam tiga tahap/fase, yaitu tahap: (1) teologis, (2)
Metafisis, dan (3) Positif-ilmiah. Bagi era manusia dewasa (modern) ini pengetahuan
hanya mungkin dengan menerapkan metode-metode positif ilmiah, artinya setiap pemikiran hanya benar secara ilmiah bilamana dapat diuji dan dibuktikan dengan pengukuran-pengukuran yang jelas dan pasti sebagaimana berat, luas dan isi suatu benda. Dengan demikian Comte menolak spekulasi “metafisik”, dan oleh karena itu ilmu sosial yang digagas olehnya ketika itu dinamakan “Fisika Sosial” sebelum dikenal sekarang sebagai “Sosiologi”. Bisa dipahami, karena pada masa itu ilmu-ilmu
alam (Natural sciences) sudah lebih “mantap” dan “mapan”, sehingga banyak pendekatan dan metode-metode ilmu-ilmu alam yang diambil-oper oleh ilmu-ilmu sosial (Social sciences) yang berkembang sesudahnya.(Budi Setiawan, 2010)
e.       Transedentalisme
Filsuf Jerman Immanuel Kant dianggap sebagai inspirator dan sekaligus sebagai peletak dasar fondasi ilmu, yakni dengan “mendamaikan” pertentangan epistemologik pengetahuan antara kaum rasionalisme versus kaum empirisme. Immanuel Kant dalam karyanya utamanya yang terkenal terbit tahun 1781 yang berjudul Kritik der reinen vernunft (Ing. Critique of Pure Reason), memberi arah baru mengenai filsafat pengetahuan. Bagi Kant yang terpenting bagaimana pikiran manusia mamahami dan menafsirkan apa yang direkam secara empirikal, bukan bagaimana kenyataan itu tampil sebagai benda itu sendiri.

F.      Abad 18/19 M (Jaman Pos Modern)
Pada abad ini dipandang sebagai awal mula periode ilmiah. Ilmu yang berkembang mulai berhubungan dengan industri dimana ilmu tersebut lebih spesifik dan terpecah yaitu biologi, kimia, fisika dan ilmu sosial. Banyak penemuan-penemuan alat yang berkaitan dengan listrik, telegraph, bola, lampu, radar dan dinamo listrik. Tokoh-tokoh Postmodernisme antara lain. J. Habermas, J. Derida. Kini oleh para epistemolog (ataupun dari kalangan sosiologi pengetahuan) dalam perkembangannya kemudian, struktur ilmu pengetahuan semakin lebih sistematik dan lebih lengkap (dilengkapi dengan, teori, logika dan metode sains). Pada abad ini juga berkembang aliran Pragmatisme, Utilitarian, Capitalisme, dan Hedonisme.
Pragmatisme berasal dari kata pragma yang artinya guna. Maka pragmatisme adalah suatu aliran yang benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan akibat-akibat yang bermanfaat secara praktis. Tokohnya William James (1842-1910) lahir di New York, memperkenalkan ide-idenya tentang pragmatisme kepada dunia. Ia ahli dalam bidang seni, psikologi, anatomi, fisiologi dan filsafat.
Utilitarianisme adalah paham atau aliran dalam filsafat moral yang menekankan prinsip manfaat atau kegunaan (the principle of utility) sebagai prinsip moral yang paling dasariah. Etika utilitarianisme menganggap bahwa sesuatu itu dapat dijadikan sebagai norma moral kalau sesuatu itu berguna. Kegunaan atau manfaat suatu tindakan menjadi ukuran normatif.
Kapitalisme sebagai sebuah sistem yang mulai berlaku di Eropa pada abad ke-16 hingga abad ke-19, yaitu pada masa perkembangan perbankan komersial Eropa di mana sekelompok individu maupun kelompok dapat bertindak sebagai suatu badan tertentu yang dapat memiliki maupun melakukan perdagangan benda milik pribadi, terutama barang modal, seperti tanah dan manusia guna proses perubahan dari barang modal ke barang jadi. Untuk mendapatkan modal-modal tersebut, para kapitalis harus mendapatkan bahan baku dan mesin dahulu, baru buruh sebagai operator mesin dan juga untuk mendapatkan nilai lebih dari bahan baku tersebut.
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia.

G.    Pos-Pos Modern (Contemporer)
Pada masa ini berkembang filsafat bahasa (analitik). Tokoh aliran ini adalah Ludwig Josef Johan Wittgenstein (1889-1951). Ilmu yang ditekuninya adalah ilmu penerbangan yang memerlukan studi dasar matematika yang mendalam. Filsafat Analitis ini berpengaruh di Inggris dan Amerika sejak tahun 1950. Filsfat ini membahas analisis bahasa dan analisis konsep-konsep.         
 
BAB III
PENUTUP
Perkembangan filsafat dimulai sejak ratusan abad sebelum masehi. Banyak aliran dan tokoh filsafat yang muncul pada masa itu yang berperan penting dalam perkembangan filsafat hingga saat ini. Periode dalam sejarah perkembangan filsafat antara lain:
§  Yunani Kuno
§  Abad Masehi
§  Jaman Kegelapan (Abad 13 M)
§  Jaman Pencerahan (Abad 15 M)
§  Jaman Modern (Abad 16-18 M)
§  Jaman Pos Modern (Abad 18/19 M)
§  Jaman Kontemporer (Filsafat Analitik)
Pada masa-masa itu bermunculan tokoh-tokoh pengembang filsafat dengan aliran-alirannya. Tokoh-tokoh tersebut antara lain:
·         Permenides (Tetap)
·         Heraclitos (Berubah)
·         Socrates (Dialectis)
·         Plato (Idealisme), Aristoteles (Realisme)
·         Galileo Galilei
·         Bruno
·         Copernicus
·         David Hume (Empirisme)
·         B. Descartes (Rasionalisme)
·         Immanuel Kant (Transedentalisme)
·         Auguste Comte (Positivisme)
·         Hegel (Hegelianisme)
·         Karl Marx (Marxisme)
dan masih banyak lainnya.
DAFTAR PUSTAKA

Budi Setiawan. 2010. Sejarah Perkembangan Pemikiran Filsafat : Suatu Pengantar Kearah Filsafat Ilmu. Makalah ini disampaikan dalam Interenship Dosen Filsafat Ilmu yang diselenggarakan oleh MKWU Universitas Airlangga, Surabaya, 28-29 Juli 2010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar